Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqoh Nahdalatul Ulama Desa Banglarangan

Jumat, 19 Mei 20170 komentar

Lazisnu Banglarangan. Ampelgading - Tugas utama Islam adalah mewujudkan tata kehidupan dunia yang adil, makmur, tenteram dan sejahtera di manapun mereka berada. Bahwa kenyataan umat Islam kini jauh dari kondisi ideal, adalah sebagai akibat belum mampu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Ra’d [13]:1). 

Potensi-potensi dasar yang dianugerahkan Allah kepada umat Islam memiliki banyak intelektual dan ulama, disamping sumber daya manusia dan ekonooi yang melimpah.

Jika seluruh potensi itu dikembangkan dengan seksama, dirangkai dengan potensi akidah Islamiyah (Tauhid) dan kandungan ajaran Islam yang jernih, tentu akan memperoleh hasil yang optimal. Pada saat yang sama, kemandirian, kesadaran beragama, dan ukhuwah islamiyah kaum muslim semakin meningkat, serta pintu-pintu kemungkaran akibat kesulitan ekonoi akan semakin dipersempit.

Salah satu pokok ajaran Islam yang belum ditangani secara serius ialah penanggulangan kemiskinan dengan cara mengoptimalkan pengumpulan dan pendayagunaan zakat, infaq dan sedekah dalam arti yang seluas-luasnya. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW serta penerus-penerusnya dizaman keemasan Islam.

Terdorong dari situasi inilah maka dibentuklah sebuah lembaga yang mengurusi zakat, infaq, dan sedekah. Lembaga ini bernama Unit Pengumpul Zakat LAZISNU Desa Banglarangan. Seperti namanya lembaga ini dalah lembaga otonom milik Nahdlatul Ulama yang mengurusi masalah zakat, infaq, shadaqoh yang menginduk pada LAZISNU ditingkat MWC, PC, PW sampai tingkat pusat.

Berdasarkan Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Banglarangan Nomor : 072/PR-NU/IV/2017, tentang pengesahan pengurus Unit Pengumpul Zakat LAZISNU Desa Banglarangan Masa Khidmat 2017 – 2022 dengan susunan terlampir : Manajemen

Pengertian Zakat, Infaq dan Shadaqoh
Menurut bahasa, kata “Zakat’ berarti tumbuh, berkembang, subur atau bertambah. Dalam Al-Quran dan hadist disebutkan, “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shodaqoh” (QS. Al-Baqaroh [2]: 276); “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka” (QS. At-Taubah [9];103).

Adapun kata Infaq adalah segala macam bentuk pengeluaran (pembelanjaan), baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, maupun yang lainnya. Sementara kata shodaqoh adalah segala bentuk pembelanjaan (infaq) di jalan Allah. Berbeda dengan zakat, shodaqoh tidak dibatasi atau tidak terikat dan tidak memiliki batasan-batasan tertentu. Shodaqoh, selain bisa dalam bentuk harta, dapat juga berupa sumbangan tenaga atau pemikiran, dan bahkan sekedar senyuman.

Hukum Zakat
Zakat termasuk dalam ketegori ibadah wajib (seperti shalat, haji dan puasa) yang telah diatus berdasarkan Al-Quran dan sunnah. Selain itu, zakat juga merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan umat manusia.

Syarat-syarat Zakat :
a.    Muslim
b.    Berakal
c.    Baliqh
d.    Memiliki harta sendiri dan sudah mencapai nisab.

Macam-macam Zakat
a.    Zakat Nafs (jiwa, disebut juga zakat fitrah.
b.    Zakat Mal (harta).

Syarat-syarat Harta yang Wajib diZakati
a.    Kepemilikan sempurna
b.    Berkembang (produktif atau berpotensi produktif)
c.    Mencapai nisab
d.    Melebihi kebutuhan pokok
e.    Terbebas dari utang
f.    Kepemilikan satu tahun penuh (haul)

Harta Yang Wajib di Zakati
1.    Binatang Ternak
2.    Harta Perniagaan
3.    Harta Perusahaan
4.    Properti Produktif
5.    Hasil Pertanian
6.    Barang Tambang dan Hasil Laut
7.    Emas dan Perak.

Zakat Profesi
Salah satu dasar hukum zakat profesi adalah Allah SWT berfirman, “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang menerima dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” (QS. Adz-Dzariyat[51];, dan (QS. Al-Baqaroh [2]: 267)7);19);

Pembagian Harta Zakat
Berdasarkan Al-Quran Surah At-Taubah ayat 60, pihak-pihak yang berhak atas harta zakat adalah:
1.    Fakir dan Miskin
2.    Amil Zakat
3.    Mualaf
4.    Riqab
5.    Garim
6.    Fi Sabilillah
7.    Ibnu Sabil

Hikmah Zakat
a.    Menolong, membantu, membina, dan membangun kaum dhuafa, lemah papa, untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup mereka.
b.    Memberantas penyakit iri hati, rasa benci, dan dengki dari diri manusia.
c.    Dapat menyucikan diri.
d.    Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang kuat dan mandiri.
e.    Mewujudkan keseimbangan distribusi harta, kepemilikan harta, dan tanggung jawab individu dalam masyarakat.
f.    Dapat mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera. (Giyarto, S.Pd)

Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2017 | NU CARE - LAZISNU BANGLARANGAN | Zakat Untuk Kemandirian Umat