Kamis, 07 September 2017

Istilah-istilah Populer di Bulan Al-Qur’an


Puasa pada bulan Ramadhan kemarin seperti yang biasa kita jalani tiap  tahunnya, disebut bulan Al-Qur’an, karena pada tanggal 17 bulan, kitab suci umat Islam diturunkan. Peristiwa itu biasanya disebut peringatan Nuzulul Quran. Tentunya banyak istilah yang sudah sering kita dengar namun belum mengerti maknanya. Berikut beberapa istilah yang di kutip dari majalah alkisah ini.

Al-Quran
Dari segi kata, berarti bacaan. Sedangkan secara istilah bermakna firman Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diwahyukan kepada Junjungan Kita Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk untuk kebahagiaan manusia di dunia terlebih diakhirat, dan yang membacanya dinilai sebagai ibadah. Dengan penegasan “diturunkan kepada Nabi Muhammmad”, semua kalam Allah SWT yang diturunkan kepada para nabi sebelum Nab Muhammad tidak dimaknai Al-Quran. Untuk kalam Allah Ta’aala yang di sampaikan kepada Nabi, yang disebut hadist qudsi, dalam hal kita membacanya tidak dinilai ibadah.

Selain Al-Quran, yang tercantum sebanyak 70 kali didalamnya, kitab suci paling mulia itu juga memiliki 70 nama lainnya. Seperti Al-Kitab (Tulisan yang Lengkap), Al-Huda (Petunjuk), Adz-Dzikr (Peringatan/Pengajaran), Al-Furqon (Pemisah antara Yang Hak dan Yang Bathil), dan At-Tanzil (Yang Diturunkan dari Atas).

Ummul Kitab
Induk Al-Quran, sebutan yang dinisbahkan kepada surah Al-Fatihah. Surah Al-Fatihah sendiri terdiri dari tujuh ayat yang diturunkan di Makkah. Sebahagian ulama lainnya berpendapat, ayat ini diturunkan di Madinah. Untuk nama lain dari surah Al-Fatihah sendiri ialah As-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang kali). Menurut para ulama, ini adalah surah yang pertama kali diturunkan secara lengkap, sehingga diletakkan di bagian depan Al-Quran sebelum surah-surah yang lain. Oleh karena itu pula dinamakan Al-Fatihah (Surah yang Membuka). Makna lainnya diperuntukkan bagi buku catatan amal manusia yang ditetapkan dan diputuskan (Qadha dan Qadar) di suatu tempat di alam ghaib yang bernama Lauhul Mahfudz (Qs. Az-Zukhruf: 4).

Asbabun Nuzul
Sebab-sebab diturunkannya ayat atau surah dalam Al-Quran. Mekanisme diwahyukannya suatu  ayat atau surah ada dua cara:tanpa diawali suatu peristiwa atau pertanyaan dan diawali suatu peristiwa atau pertanyaan. Pengetahuan tentang sebab diturunkannya ayat adalah salah satu unsur penting dalam menafsirkan Al-Quran, baik bil ra’yi (penafsiran dengan mengandalkan riwayat-riwayat dan hadist) maupun bir ra’yi ( penafsiran berdasarkan logika/qiyas dan kesesuaian pandangan). Salah satu kitab yang menuangakan sebab-sebab ayat diturunkan ialah Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul, karya As-Suyuthi.

Makkiyyah
Ayat-ayat Makkiyah adalah ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan sebelum hijrah. Jangkarnya selama 12 tahun 5 bulan 13 hari, yang terhitung dari tangal 17 Ramadhan tahun tahun ke 41 dari kelahiran Nabi SAW (6 Agustus 610 M) sampai tanggal 1 Rabi’ul Awwal tahun ke 54 dari tahun kelahirannya. Jumlah ayat ini  mencapai 4.780 ayat atau 86 surah. Ayat-ayat Makkiyah umumnya mengandung hal yang berhubungan dengan aqidah.

Nuzulul Quran
Waktu diturunkan wahyu-wahyu yang kemudian hari di masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq terangkum dalam sebuah mushaf Al-Quran. Waktu atau masa diturunkan Al-Quran ini dibulan Ramadhan di masa kenabian Nabi Muhammad SAW.

Madaniyyah
Ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan sesudah Nabi Hijrah ke Madinah selama 9 tahun 9 bulan 9 hari. Terhitung sejak Nabi SAW hijrah Madinah sampai tanggal 9 Dzulhijjah tahun ke-63 dari kelahirannya. Jumlah ayat ini mencapai 1.456 ayat atau 28 surah. Ayat-ayat Madaniyyah umumnya hal yang berhubungan dengan syariah.

Sajdah
Artinya sujud. As-Sajdah adalah nama salah satu surah dalam Al-Quran yang berada pada urutan ke-32. Istilah Sajdah juga terpatri dalam kelompok kata ayat-ayat sajdah, yakni ayat-ayat Al-Quran yang saat membacanya di-sunnahkan melakukan sujud tilawah. Para ulama menghimpun sejumlah ayat sajdah sebanyak 15 ayat yang terdapat di berbagai surah, yakni QS 7: 206, QS 13: 15, QS 16: 50, QS 17: 109, QS 19: 58, QS 22: 18, QS 22: 77, QS 25: 60, QS 27: 26, QS 32: 15, QS 38: 24, QS 41: 38, QS 53: 62, QS 84: 21, QS 96: 1. Menurut sejumlah riwayat, bacaan yang biasa dibaca Rasullah SAW saat sujut tilawah ini berbunyi, “Sajada wajhiya lilladzi khalaqa khalqahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu bi haulihi wa quwwatii.”

Wahyu
Artinya isyarat yang cepat (isyarah sari’ah) yang disampaikan Allah kepada makhluk-Nya yang dalam bentuknya tertinggi berupa kalam (firman) Allah yang dianugerahkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya (al-wahyu matluww atau al-wahyusu syari’iyy).

Hilyah al-Qira’ah
Seni atau hiasan membaca Al-Quran. Para ahli qiraat mengatakan, tajwid merupakan hiasan utama dalam membaca Al-Quran. Tajwid artinya membaca huruf sesuai dengan hak-haknya, makhraj (tempat keluar)-nya. Membaca Al-Quran yang sesuai dengan hukum tajwid (mujawwad) disebut dengan tahqiq. Cara baca lainnya ialah tadwir, yakni membaca dengan bacaan yang sedang kecepatannya, sekalipun ada hukum mad (memanjangkan bacaan) di dalamnya, sehingga tidak sempurna betul, dan hadr, yakni membaca dengan cepat dengan meringankan bacaan-bacaan ikhfa (menyemunyikan huruf), idgham (mendengungkan), mad, dan sebagainya.

Mutasyahbbihat
Dari segi kata, maknya adalah serupa atau samar-samar. Dari segi istilah, ayat-ayat Al-Quran yang tidak jelas maknanya (ghair qath’i) sehingga memerlukan penakwilan atau penafsiran. Di antara ayat-ayat mutasyabihat adalah susunan huruf-huruf muqaththa’ah (terputus) dalam fawatihus suwar (pembuka surah-surah Al-Quran) seperti alif lam mim, ha mim, ya sin, ‘ain sin qaf, dan lain sebagainya.

Qira’at as-Sab’ah
Metode bacaan Al-Quran yang tujuh. Istilah ini baru muncul di permulaan tahun 200 H, yaitu ketika kaum muslimin di berbagai negeri Islam diperkenalkan dengan bacaan-bacaan tujuh orang Imam. Yakni Imam Abdullah bin Katsir Ad-Dari (w. 210 H) di Makkah, Imam Nafi bin Abdurrahman (w. 120 H) di Madinah, Imam Abdullah Al-Yahsabi (w. 118 H) di Syam, Imam Abu ‘Amr bin Al-‘Ala (w. 154 H) di Basrah, Imam Al-Kisa’i (w. 189 H) di Kufah, dan Imam Hamzah bin Habib Az-Zayyat (w. 127 H)di Kufah.

Orang yang menghimpun bacaan tujuh ini sehingga menjadi panduan pembacaan Al-Quran ialah Ibnu Mujahid Abu Bakar Ahmad bin Musa Al-Abbas (w. 324 H) pada tahun ke-300 H. Contohnya, qira’at Ibn Katsir, yang menambahkan kata min pada ayat ke-100 surah At-Tawbah, tajri min tahtihal anhar. Bacaan ini dibenarkan dalam mushaf Makkah. Para ahli qira’at meriwayatkan bacaan-bacaan itu dengan jalan periwayatan (aujuh at-tahammul) yang memiliki mata rantai sanad hingga Rasulullah SAW.

Muhkamat
Secara harfiah, bermakna kukuh atau dikukuhkan. Dari segi istilah, ayat-ayat Al-Quran yang maknanya qath’i (jelas atau gamblang) sehingga tidak memerlukan penakwilan dan penafsiran.


Sumber : Alkisah No.20/22 SEPT. – 5 OKT.2008

SHARE THIS

Admin :

Website resmi Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama yang dikelola oleh Pengurus NU Care - Lazisnu Desa Banglarangan Kec. Ampelgading Kab. Pemalang. Email : lazisnubanglarangan@gmail.com

0 Comments: