06 Maret 2020

Riwayat Hidup K.H. Hasyim Asy’ari

SHARE

Nama lengkap K.H. Hasyim Asy’ari adalah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari, anak laki-laki ketiga dari sebelas orang bersaudara, tujuh orang laki-laki dan empat orang wanita. K.H. hasyim Asy’ari dilahirkan di Desa Nggedang sebelah utara Jombang Jawa Timur pada hari Selasa, 14 Februari 1871 M/24 Dzulqoidah 1287 H. Ayahnya bernama Asy’ari, seorang kiai dari Demak, Jawa Tengah. Sedangkan ibbunya Ny. Halimah. 

Sebagai seorang anak kiai, K.H. Hasyim Asy’ari memperoleh pendidiakn dasar agama khas pesantren dari orang tuanya sendiri. Setelah berusia 14 tahun secara berturut-turut, ia belajar dari satu pesantren ke pesantren lain yang masih berada di wilayah Jawa Timur dan Madura. Mula-mula ia menjadi santri di Wonokoyo (Probolinggo), kemudian pindah ke Ponpes Langitan (Tuban), dan melanjutkan ke Ponpes Trenggilis (Semarang), maka pada tahun 1891-1892 ia kembali nyantri ke Ponpes Siwalan Panji (Sidoarjo) pimpinan K.H. Ya’kub, seorang tokoh yang berpandangan luas dan alim dalam ilmu agama. 


Selama di Ponpes Siwalan, perilaku K.H. Hasyim Asy’ari yang potensial dan ilmu agamanya bagus selalu diperhatikan K.H. Ya’kub. Tak lama kemudian pada tahun 1903 H/1892 M, K.H. Hasyim Asy’ari waktu itu baru berumur 21 tahun dijodohkan dengan Chadidjah, anak K.H. Ya’kub sendiri. Pada tahun 1892, setelah melangsungkan pernikahan, K.H. Hasyim Asy’ari  bersama istrinya melaksanakan ibadah haji dan mencari ilmu pengetahuan di Mekah. Namun, sebelum semua maksudnya kesampaian, istrinya meninggal dunia sehingga ia kembali ke Indonesia. Tahun berikutnya (1893) K.H. Hasyim Asy’ari berangkat lagi ke Mekah. 

Lama belajar di Mekah jika digabungkan dengan waktu sebelumnya adalah 7 tahun, setelah itu ia baru kembali ke Indonesia (1899). Beberapa kyai yang pernah menjadi gurunya adalah Syekh Ahmad Khatib dari Minangkabau dan Syekh Mahfuz at-Tirmisi. Setelah kembali dari Mekah, K.H. Hasyim Asy’ari dengan bantuan saudara iparnya K.H Alwi mendirikan Ponpes Tebuireng di Jombang pada tanggal 26 Robiul Awal 1317 H/1899 M. Awalnya, Ponpes ini hanya dimintai tujuh orang santri. Namun, beberapa bulan kemudian santrinya bertambah dua puluh satu orang, dan secara berangsur-angsur nama pesantren dan pengasuhnya menjadi masyhur. Ponpes Tebuireng (Jombang) diakui keunggulannya oleh banyak pihak. Pihak yang datang belajar ke sana tidak hanya para santri tetapi juga para kiai. 

Salah satu dari kiai yang datang ke sana adalah yang dulu pernah menjadi guru K.H. Hasyim Asy’ari sendiri. Para mantan guru K.H. Hasyim Asy’ari sering berkunjung ke Ponpes Tebuireng untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan. Bahkan K.H. Hasyim Asy’ari yang punya spesialisasi ilmu hadis itu pernah didatangi tokoh besar yang pernah menjadi gurunya, yaitu K.H. Muhammad Cholil (Bangkalan) yang selama ini dikenal sebagai tokoh ilmu nahwu (tata bahasa Arab) dan fikih, serta sering suka berbuat nyeleh. “Dulu saya memang mengajar Anda. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah murid Anda,” ujar K.H. Muhammad Cholil rendah hati di hadapan mantan muridnya, K.H. Hasyim Asy’ari. “Sungguh saya tidak menduga kalau kiai akan mengucapkan kata-kata demikian. 

Barangkali kyai salah raba berguru pada saya, murid kiai sendiri; dulu dan sampai kapan pun, kiai akan tetap menjadi guru saya”. Jawab K.H. Hasyim Asy’ari mendengar pernyataan dari mantan gurunya. Mendengar jawaban K.H. Hasyim Asy’ari yang rendah hati itu, K.H. Muhammad Cholil tetap bersikeras ingin mengaji pada K.H. Hasyim Asy’ari mengenai ilmu hadis. Karena itu setiap kali keduanya bertemu terutama waktu shalat, mereka sering merasa tidak enak dan rikuh, untuk menentukan siapa yang harus menjadi imam. Pengalaman K.H. Muhammad Cholil untuk ganti berguru kepada K.H. Hasyim Asy’ari memberi petunjuk bahwa kealiman K.H. Hasyim Asy’ari sangat diterima oleh masyarakat pesantren. 

Dalam sejarah pendidikan Islam (khusunya di Jawa) peran K.H. Hasyim Asy’ari sangat besar. Sampai ia dikenal dengan sebutan Hadratusy Syeikh (guru besar di lingkungan pesantren). Pengaruhnya sangat besar dalam membentuk kader-kader ulama pimpinan pesantrennya. Banyak Ponpes besar yang terkenal, terutama yang berkembang di Jawa Timur dan Jawa Tengah, dikembangkan oleh para kiai hasil didikan K.H. Hasyim Asy’ari. Diantara Ponpes yang diasuh alumni pesantren Tebuireng adalah Ponpes Sukorejo-Asembangus (Situbondo), Ponpes Lirboyo (Kediri), Ponpes Denanyar (Jombang), Ponpes Mambaul Ma’arif (Jombang), dan Ponpes Lasem (Rembang). 

Dalam kebiasan sehari-hari K.H. Hasyim Asy’ari dikenal sebagai tokoh yang dispilin. Misalnya, sekembalinya dari masjid (sekitar pukul 06.00 pagi) biasanya mengurus para pekerja. Ini berkaitan dengan sawah yang harus digarap atau kerbau dan sapi yang dititipkan pada orang lain. K.H. Hasyim Asy’ari mengatur pada pekerja supaya bekerja dengan baik. Ia sering menyisihkan waktu sekitar 30 menit di pagi hari untuk mengurus nafkah keluarga. Setelah itu, ia baru mengajar para santrinya sampai jam 10.000 WIB. Setelah itu ia beristirahat sebentar sampai menjelang waktu zuhur. 

Setelah Dzuhur ia kembali mengajar sampai sore hari. Sebelum salat Ashar, ia akan kembali mengurus para pekerjanya sekitar 30 menit. Setelah salat Isya ia akan mulai mengajar lagi. Begitulah disiplin yang dijalankan oleh K.H. Hasyim Asy’ari. Namun begitum jadwal kegiatan di atas hanya mengetengahkan kegiatan harian dari pagi sampai petang. Pada malam harinya K.H. Hasyim Asy’ari menuliskan pikiran-pikirannya. Olhe karena itu, sepeninggalnya ada dua kitab yang dapat dibaca yaitu: 

1. Ihya’ Amali Fudala Muqaddimah Qonun Asasi, yang didalamnya memaparkan tata cara bermaazhab. 

2.  Ad-Durar al-Mustasyirah fi Masail at-Tisna Asyarah, yang membimbing perlunya berhati-hati memasuki kehidupan dunia tarekat. 

Disetiap minggunya, ada dua hari libur di Ponpes yang diasuh K.H. Hasyim Asy’ari, yaitu hari Selasa dan Jumat. Hari libur ini dimanfaatkan olehnya untuk menjenguk sawah dan kebunnya di desa Jombok (sekitar 10 km, selatan Tebuireng). Atau digunakan untuk membaca kitab-kitab dan buku-buku untuk memperluar wawasan. 

Sumber : ke-NU-an Ahlussunah Waljamaah/Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar Kelas V 
SHARE

Admin :

Website Resmi Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama yang dikelola oleh Pengurus NU Care - Lazisnu Desa Banglarangan Kecamatan Ampelgading Kabupaten Pemalang. Email : lazisnubanglarangan@gmail.com

0 Comments: