Senin, 11 September 2017

Cinta dan Perkawinan Yang Agung dan Suci

Memilih Jodoh, Pacaran Sebelum Nikah
Gegarane wong akrami,
dudu bandha dudu rupa,
amung ati pawitane,
luput pisan kena pisan,
yen gampang luwih gampang,
yen angel angel kalangkung,
tan kena tinumbus arta.
( Asmaradana )

Seperti digambarkan di dalam tembang Asmaradana di atas, memilih jodoh itu gampang-gampang susah. Jelasnya, ada kalanya mudah, ada kalanya sukar. Bila kebetulan mudah, mudah sekali, dan bila kebetulan sukar juga sukar sekali. Dikatakan sukar, dalam prosesnya juga membutuhkan pengorbanan yang besar.

Entah itu berupa waktu, tenaga, pikiran ataupun berupa harta, itu sudah pasti. Walapun demikian , sudah berkorban, dan berusaha sekuat tenaga jika kebetulan sukar atau belum beruntung maka ibaratnya “ rinangsang runa ginayuh luput”; menemui kegagalan. Misalnya saja lalu dapat berhasil, itu bukan berarti menjamin kecocokan dan  kebahagiaan waktu yang akan datang.

Orang berumah tangga “tan kena tinumbas arta”, tak dapat ditebus dengan uang dan harta. Sebaliknya jika kebetulan mudah ibaratnya tidak usah mencari, jodoh datang sendiri. Orang namanya sedang beruntung, yang datang sendiri itu cocok di hati, jodoh yang betul-betul jodoh. Memang “ yen gampang luwih gampang “Demikianlah sekilas ilustrasi (ekstrim) alternatif-alternatif yang dapat dialami seseorang dalam mencari jodoh. Lantas bagaimana sikap kita ?
Sebagai manusia yang berakal, kita harus berwawasan luas dan berpikir positif. Kita tidak boleh hanya “njagakake” begitu saja.

Sebaliknya juga bukan berarti harus “milang-miling golek tandhing”
Dalam hal ini memang sangat dibutuhkan pengertian dan pertimbangan khusus sehingga kita tidak bersikap capatis ataupun overacting.

Mendahulukan Pertimbangan
Biasanya buah jambu yang berkulit bersih mulus isinya juga demikian, begitu pula sebaliknya. Namun walau bagaimanapun memilih jodoh lain sekali dengan memilih jambu. Di dunia ini yang namanya “nyolong pethek” tetap berlaku. Dapat saja “cangkir gadhing isi beling” dan sebaliknya juga bisa “bathok bolu isi madu”. Nah, disinilah pentingnya penjajagan dilakukan terlebih dahulu sebelum perkawinan. Jelasnya untuk mencari kecocokan satu sama lain, sebab orang berumah tangga di samping melaksanakan perintahNya untuk menyambung keturunan, yang pasti  juga berupaya memperoleh kebahagiaan lahir bathin.

Maka sudah semestinya prinsip kecocokan harus dipegang teguh. Caranya di dalam masa-masa penjajagan jangan hanya menuruti perasaan-perasaan yang banyak di pengaruhi oleh faktor-faktor lahiriah yang menipu, tetapi semestinya harus mengutamakan pertimbangan dengan berpikir sehat. Dalam hal ini pertimbangan mesti diunggulkan. Kenyataannya orang yang hanya menuruti perasaannya sebagian besar menyesal di kemudian hari,lantaran dia tidak berhasil mendapatkan hasil yang kontemplatif tapi bahkan mendapatkan yang ekslatatif. Daripada demikian lebih baik kita menghargai pertimbangan. Bukankan pikir itu pelita hati?

Penjajagan
Penjajagan (baca : pacaran) idealnya memang yang benar, artinya dapat menjamin keutuhan dan kebahagiaan selanjutnya. Namun memang kenyataannya tidak selalu demikian, ada kalanya orang salah jalan, menyimpang dari jalur semestinya. Memang manusiawi. Adanya penjajagan yang keliru biasanya dikarenakan salah pengertian terhadap tujuannya. Penjajagan dianggap sebagai kesempatan untuk mencari pengalaman, bersenang-senang, ataupun untuk menuruti gelora darah muda. Nah! semua kekeliruan inilah – sekarang naga-naganya sudah dianggap enteng yang menyebabkan timbulnyanya praktek abortus yang keji itu. Mudah-mudahan kita dijauhkan dari hal-hal demikian. Lalu bagaimana penjajagan yang “benar?”

Penjajagan yang benar selaras dengan tujuannya yaitu berupaya menemukan kecocokan antara pihak-pihak yang bersangkutan sehingga saling memaklumi kelebihan dan kekurangan masing-masing, demi kebahagiaan selanjutnya tanpa mengabaikan kesusilaan baik di mata manusia lebih-lebih di “mata” Allah. Walaupun penjajagan itu belum tentu berakhir dalam sebuah mahligai perkawinan.
Penjajagan yang benar membawa akibat positif. Di antaranya menambah dewasa cara bersikap dan berpikir, saling menghormati antara satu dengan yang lain dan menjunjung tinggi nilai kesusilaan serta kesucian.

Tuntutan Islam
Islam sebagai agama yang komprehensif memberikan tuntutan cara memilih jodoh. Hadist Nabi SAW. Yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menyebutkan sebagai berikut :

Seorang wanita dinikahi karena empat sebab : karena hartanya, karena kedudukannya, sebab kecantikannya dan sebab agamanya: maka hendaklah kamu memilih sebab agamanya, engkau pasti berbahagia. Jelaslah wanita dinikah karena beberapa perkara. Dan jelas pula jika menghendaki kebahagiaan kita harus menikahi wanita lantaran agamanya. Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Muslim dikatakan bahwa dunia itu kesenangan dan sebaik-baiknya kesenangan di dunia ialah wanita yang baik (sholihah). Wanita yang baik adalah yang benar agamanya. 

Oleh karena itu semestinya kita menurut tuntutan itu, agar kita berbahagia lahir bathin dan berbahagia di hadapanNya kelak lantaran ridhoNya. Analogi, sebaiknya bagi wanita dalam memilih suami; memilih bukan sebab hartanya, kedudukannya ataupun kegantengannya; melainkan sebab agamanya, supaya juga mendapatkan kebahagiaan lahir bathin. Memang jika mampu kita menghendaki karena keempatnya. Namun kita menyadari bahwa manusia tidak semuanya “sempurnya”.

Sebagai penutup, kepada para pembaca khususnya terlebih diri saya sendiri, marilah kita berusaha meraih kebahagian dengan cara memenuhi tuntutan yang benar. Kita tidak perlu berpura-pura bodoh lantaran hanya untuk memenuhi kesenangan pribadi. Dan yang pokok dalam masa penjajagan jangan sampai kita mengorbankan kesuliaan dan kesucian. Jauhkan pedoman “saiki theke sapa sesuk theke sapa” (sekarang milik siapa besok milik siapa) yang terpengaruh oleh keinginan yang rendah itu. Cinta dan perkawinan itu agung dan suci.


Sumber : Majalah Krida.januari.1990

SHARE THIS

Admin :

Website resmi Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama yang dikelola oleh Pengurus NU Care - Lazisnu Desa Banglarangan Kec. Ampelgading Kab. Pemalang. Email : lazisnubanglarangan@gmail.com

0 Comments: