Senin, 20 November 2017

Mengenal Nyai Wahab Hasbullah

Senin 1 Agustus 1994 dari wafatnya Bu Wahid Hasyim, berselang empat hari menyusul wafat Nyai Hajah Rohmah Wahab Hasbullah. Yaitu, isteri KHA Wahab Hasbullah (mantan Rais Am PBNU). Nyai Wahab wafat pada usia 82 tahun, pukul 23.40 wib karena menderita kanker getah bening.

Almarhum meninggalkan lima putra : Nyai Hajah Mahfudzoh Ali Ubaid (mantan anggota DPR RI dan salah satu Ketua Kowani Pusat), Hisbiyah Abdurrahim (pengurus PP Muslimat NU), Ny. Munjidah Wahab (Pimpinan PP Al-Latifiyah II, Tambak Beras Jombang), Drs. KH Hasib Wahab (anggota DPRD Tk. II Jombang), dn HM Rokib Wahab.

Kiai Bisri adalah putra Syansuri yang lahir di Tayu Jawa Tengah pada 18 September 1886. Pada umur 15 tahun Bisri nyantri di Kiai Kholil Bangkalan. Di sana ketemu pemuda Wahab Hasbullah. Maka menjadilah keduanya teman akrab. Kemudian, pada tahun 1906, keduanya pindah nyantri ke KH Hasyim Asy’ari di PP Tebuireng Jombang.

Bisri Syansuri tinggal di pesantren Tebuireng enam tahun lamanya. Hubungannya bertambah karib dengan pemuda yang dua tahun lebih tua, Abdul Wahab Hasbullah. Kiai Wahab masih keluarga dekat Kiai Hasyim Asy’ari, karena ia adalah adik sepupu sang guru. Kedua orang tua mereka masih bersaudara, karena sama-sama berasal dari desa Gedang, dua kilometer di utara kota Jombang.

Keduanya juga masih meiliki garis keturunan keluarga yang panjang, hingga ke tokoh legendaris Jaka Tingkir di Salatiga, Jawa Tengah. Dari keluarganya sendiri, Abdul Wahab memiliki garis keturunan itu melalui sejumlah pemimpin gerakan keagamaan di Nganjuk.

Dari jurusan ayahnya, Kiai Hasyim memiliki garis keturunan lebih pendek dan langsung, karena ayahnya, Kiai Asy’ari, adalah putera Kiai Abdul Wahid dari desa Tingkir itu sendiri, dan istri berasal dari Demak.

Itulah sebabnya, di kemudian hari Hasyim Asy’ari menamai anaknya dengan nama Abdul Wahid Hasyim. Pada tahun 1912-1923 Bisri berangkat  melanjutkan pendidikan ke Makah, bersama Addul Wahab Hasbullah. Keduanya belajar pada sejumlah ulama terkemuka di tanah suci Mekkah.

Seperti Syaikh Muhammad Baqir, Syaikh Muhammad Sa’id Yamani, Syaik Ibrahim Madani dan Syaik Jamal Maliki. Juga kepada guru-guru dari sang guru Kiai Hasyim Asy’ari, seperti Kiai Ahmad Khatib Padang, syuaib Daghistani, dan Kiai Mahfudz Termas.

Pada tahun 1914, adik Abdul Wahab Hasbullah yang bernama Nur Khadijah menunaikan ibadah haji bersama ibunya. Tidak lama dari kedatangan beliau di Makkah, dimulailah upaya Abdul Wahab Hasbullah untuk menjodohkan adik yang paling disayanginya itu dengan teman karib berasal dari Tayu itu.

Tanpa banyak persoalan maksud itu tercapai dengan baik, dan pada tahun yang sama kedua suami istri itu pulang ke tanah air. Dan menetaplah ia di Denanyar, Jombang.

Dari pasangan pemuda Bisri dan Nur Khadijah inilah lahir seorang putri bernama Solehah. Yang dikemudian Solehah dikawinkan dengan Abdul Wahid Hasyim. Itulah para singa yang mempunyai keturunan singa juga. Mereka dapat disebut tedhaking kusum – rembesing madhu.

Semoga kita semua ikut mendapat pancaran sinar, dan mencium bau semerbaknya. Semoga semua yang telah mendahului kita mendapat tempat yang layak di sisi Allah sesuai karya besarnya. Aamiin


Sumber : Majalah Aula. Agustus 1994

SHARE THIS

Admin :

Website resmi Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama yang dikelola oleh Pengurus NU Care - Lazisnu Desa Banglarangan Kec. Ampelgading Kab. Pemalang. Email : lazisnubanglarangan@gmail.com

0 Comments: