Senin, 18 Desember 2017

Cara Mengatasi Anak Masa Pubertas Tinjauan Peadagogis Islam

SHARE

Setiap manusia pasti berawal dari kecil bahan dari bayi serta masa kandungan. Dalam masa-masa selanjutnya mengalai pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan yang terjadi pada segi pisik seperti tinggi badan, berat badan, tumbuhnya gigi, besarnya lengan dsb. Sedangkan perkembangan dapat diartikan  perubahan dalam segi psikis. Hal ini dapat kita ambil contoh rasa malu mulai timbul, rasa menentang pada orang tua, senang pada adil dll.

Namun demikian antara pertumbuhan dan perkembangan harus seimbang dan secara wajar. Bila pertumbuhan mendahului perkembangan akan tampak orang yang sudah besar namun masih suka bermain mobil-mobilan dsb. Dalam pembahasan ini istilah perkembangan yang dengan maksud sudah mencakup arti pertumbuhan itu sendiri. Hal ini dimaksud untuk mempermudah dalam perekayaan pembahasan berikutnya tanpa bermaksud mengurangi keabsahan dari kalimat itu sendiri.

Perkembangan Manusia Menurut para Ahli Ilmu Jiwa
Dalam usaha menggambarkan proses perkembangan, secara teknis periodisasi memegang peranan penting. Banyak para ahli melontarkan pandangan menurut kacamata pandangan masing-masing. Sehingga timbul bermacam-macam periodisasi. Namun demikian semua periodisasi tersebut kiranya dapat digolongan dalam tiga golongan.

1.    Periodisasai Berdasarkan Pada Segi Biologis
Aristoteles seorang ahli ilmu filsafat dan sekaligus ilmu jiwa mengemukakan :
  • Fase I sampai umur 7 tahun, masa bermain.
  • Fase II sampai umur 14 tahun, masa belajar.
  • Fase III sampai umur 21 tahun, masa pubertas atau peralihan dari anak menjadi dewasa.
Charlot Buhler, mengemukakan dengan lima fase :
  • Fase I. Sampai umur 1 tahun, anak mengenal dunia sekitarnya.
  • Fase II. Sampai umur 4 tahun, anak mengalami kemajuan bahasa serta kemauannya tumbuh. Sudah sadar akan akunya.
  • Fase III. Sampai umur 8 tahun, hubungan pribadi dengan lingkungan sosial mulai berlangsung.
  • Fase IV. Sampai umur 13 tahun, anak sudah mulai rasa tanggung jawab.
  • Fase V. Sampai umur 19 tahun, masa penemuan diri dan kematangan.
2.    Periodisasi Berdasar Pada Segi Paedagogis
Johan Amous Comenius merumuskan periodisasi sbb :
  • Scola Materna, untuk anak sampai usia 6 tahun.
  • Scola Vervacula, anak usia 6 tahun sampai 12 tahun.
  • Scola Latina, utnuk anak-anak sampai umur 18 tahun.
  • Acedemis, dari usia 18 tahun sampai 24 tahun.
Kohnstamm dari segi psikologis yang senantiasa menjadi sumber dari beberapa kemajuan ilmu jiwa manusia. Beliau membagi dalam 4 masa, yaitu :
  1. Masa Vital, sampai berumur 2 tahun.
  2. Masa Estetis, sampai umur 7 tahun.
  3. Masa Intelektual, sampai umur 13 tahun.
  4. Masa Sosial, sampai umur 21 tahun.
Dari pandangan yang demikian kiranya perlu kita telaah ulasan Aristoteles, Buhler, Oswald Kroh. Dari ketiga tokok disini sepakat menandaskan bahwa pada usia 13-14 tahun dalam diri anak mengalami masa-masa yang sangat menentukan. Aristoteles menganalisa dengan tumbuhnya kumis, bekerjanya kelenjar kelamin, perubahan suara dan tumbuhnya jakun, BUHLER dengan masa penemuan diri dan kematangan, sedangkan Kroh mengatakan masa pubertas pertama karena beliau mengemukakan ada 3 masa pubertas sebagai evolusi dan sekaligus revolusi.

Perkembangan Manusia Menurut Pendidikan Islam
Dari Sahabat Anas r.a. Bersabda Nabi SAW, anak itu pada hari ketujuh dari lahirnya disembelihkan aqiqah, dan diberi nama sera dicukur rambutnya. Kemudian setelah enam tahun dididik beradab, setelah sembilan tahun dipisah tempat tidurnya, bila telah berumur 13 tahun dipukul karena meninggalkan sholat, setelah umur 16 tahun dikawinkan orang tuanya, Ayahnya berjabat tangan dan mengatakan “Saya telah mendidik kamu, mengajar dan mengawinkan kamu, saya memohon kepada Tuhan agar dijauhkan dari fitnahmu di dunia dan siksamu di akhirat....”

Dari hadist diatas kiranya dapat ditarik pengertian fase-fase pertumbuhan anak secara paedagogis sbb :
  1. Fase pendidikan pada saat dalam kandungan.
  2. Fase pendidikan dressur (pembiasaan) pada hal-hal yang baik sampai pada usia 6 tahun.
  3. Fase anak dididik tentang adap, sopan santun, kesusilaan dimulai anak pada usia 6 tahun.
  4. Fase anak dididik sexualnya, dengan memisahkan tempat tidur hal ini dimaksudkan agar tidak melihat sesuatu yang terjadi pada orang tuanya. Karena pada usia ini anak suak meniru.
  5. Fase untuk menenangkan jiwanya dengan mengharuskan sholat. Pada usia 13 tahun anak mengalami sturmunddrang (puberteite) masa kegoncangan-kegoncangan jiwa yang sangat membutuhkan pimpinan yang teguh. Mereka mau lari dan mencari sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu. Mereka butuh tetapi tidak tahu apa yang dibutuhkan. Kegoncangan ini perlu dipadamkan dengan sholat.
  6. Fase pendidikan anak yang telah mengalami kematangan seksualnya. Dengan cara dikawinkan. Dalam fase ini diperuntukkan khususunya wanita. Hal ini dapat kita terima dengan satu pembuktian yang dilakuakn John Hopkins seorang ahli riset di Amerika yang mendapat hampir separoh remaja wanita Amerika 10,3 juta yang berusia 15-`19 tahun sudah pernah mengalami hubungan sex diluar nikah. Bagaimana dengan di Indonesia ? mari kita renungkan hasil riset salah seorang ahli psikologis kita yang telah mengadakan risenya di Kota Jakarta, Surabaya, Bandung.
  7. Fase pendidikann anak pada usia dewasa. Anak sudah dilepas oleh orang tua.
Pukullah Anak Usia 13 Tahun Bila Tidak Mau Mengerjakan Sholat
Dari uraian kedua poros ilmu yang berbeda tersebut diatas kiranya dapat diambil suatu analisa komparatife dimana satu ilmu memandang pada usia 13 tahun mengalami kegoncangan pada ilmu yang lain menunjukkan praktis cara mengatasi kegoncangan tersebut. Walaupun demikian tidak mustahil kebijaksanaan perintah mengerjakan shalat dilakukan pada usia yang lebih dini mungkin. Namun yang hampir mendekati kesesuaian dari keduanya pada usia 13 tahun.

Bila seseorang telah berhasil menghasilkan suatu ketenangan dalam menghadapi problematika yang awal, maka pada suatu waktu bila masalah itu muncul lagi lebih banyak akan berhasilnya dan konsekwensinya lebih sedikit kekurangan yang ditumbulakannya. Kalau sekiranya kita sudah mengemukakan bahwa pubertas itu suatu evolosu dan pada masa-masa tertentu menjdai revolusi dengan demikian revolusi selanjutnya dapat kita antipati dengan persiapan yang lebih matang, lebih sempurna dan lebih paham dari gejala yang ada. 

Pertama kali wanita menstruasi rasa dan perasaan gundah gulana, begitu juga pertama seorang anak laki-laki bermimpi perasaan itu muncul dan menjadi tanda tanya setiap saat. Namun bila kemudian itu terjadi maka hal itu dianggap wajar saja. Sholat merupakan salah satu konsep vertikal langsung dengan Allah SWT. Dengan sholat semua perasaan tertuju kepada satu tujuan, pikiran, hati nurani menyatu denga kalbu yang menentu harapan sang pengabdian. Bia hal ini menjadi suatu hal yang pasti maka sholat mampu membedakan antara ketenangan dan kegoncangan. Itulah kiranya satu untaian kalimas Rasul yang terkandung untuk membiasakan anak dan sekaligus keharusan bagi anak untuk melakukan sholat apalagi berjama’ah.

Sedangkan pada pubertas yang kedua anak sudah punya bekal dengan demikian kematangan itu telah ada, oleh karena itu dinikahkan. Bila seorang laki-laki belum siap dengan itu semua maka disuruh berpuasa. Itulah pendidikan Islam yang meliputi kejiwaan secara teoritis maupun secara praktis. Kebenaran ini dapat kita buktikan semakin sering seseorang melakukan sholat semakin tenang jiwa dan perasaan serta kalbunya.

Ada satu Ungkapan yang artinya :
“Barang siapa membiasakan sesuatu pada waktu mudanya, maka kebiasaan itu dimiliki pada sampai usia senja”.


Sumber : Majalah Krida. Edisi 197. Oleh Bisri, Sayung Demak
SHARE

Admin :

Website Resmi Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama yang dikelola oleh Pengurus NU Care - Lazisnu Banglarangan Kecamatan Ampelgading Kabupaten Pemalang. Email : lazisnubanglarangan@gmail.com

0 Comments: