Kamis, 20 Desember 2018

Babad Islam di Desa Banglarangan

SHARE

Kyai Abdul Wahid adalah pembawa risalah Islam pertama di desa Banglarangan. Ky Abdul Wahid dari Pacing Pekalongan dan istri beliau Salamah dari Tangkil Pekalongan. Konon berangkat sebagai seorang buruh tani (macul) beliau datang di desa Banglarangan sekitar abad 18. Kemudian penguasa desa Banglarangan saat itu yaitu Bapak Sarpan (Lurah/Kades I) memandang beliau sebagai sosok yang ahli agama sangat dibutuhkan untuk mengajar agama Islam masyarakat Banglarangan. 


Di sisi lain ternyata Kades Losari yang pada saat itu dijabat oleh Bapak Tlompak atau yang terkenal dengan Lurah Tlompak mempunyai pemikiran yang sama dengan Bapak Sarpan. Akhirnya keduanya sepakat untuk meminta beliau Kyai Abdul Wahid mengajar Islam kepada warga Banglarangan dan Losari. Kemudian akhirnya Kyai Abdul Wahid di sediakan tempat di daerah selatan desa (Sebelah selatan KUA sekarang).

Dalam perkembangan berikutnya Kyai Abdul Wahid dengan dibantu masyarakat mendirikan  sebuah rumah ibadah di daerah tersebut yang terkenal dengan istilah langgar yaitu sebuah rumah ibadah yang terbuat dari kayu yang berbentuk rumah panggung. Langgar itulah yang merupakan rumah ibadah (Musola/tempat Solat) pertama di Banglarangan. 

Kemudian dalam perkembangan selanjutnya warga mendirikan musola kedua didaerah utara (yang sekarang Musola Al Amin) pada saat itu disebut tajuk. Berbeda dengan langgar, kalau tajuk merupakan rumah tanpa panggung. Berikut ini adalah urutan rumah ibadah yang ada di Banglarangan pada saat itu:

1. Langgar (yang sekarang Musola Nurul Hikmah) yang didirikan Ky. Abdul Wahid yang kemudian diteruskan Kyai Shomad.
2. Tajuk (yang sekarang Musola Al Amin) dengan tokohnya Kyai Ilyas yang diteruskan Kyai Wahyani (Mbah Siwah).
3. Masjid utara (yang sekarang Masjid At-Taqwa)  yang merupakan hadiah dari pemerintah Belanda untuk masyarakat Banglarangan dan Losari yang pada saat itu masih milik warga Nahdliyin, dengan tokohnya KH. Zaenal Asiqin (Mbah. Jen)
4. Langgar (yang sekarang Baitul Mutaqin) dengan tokohnya Kyai Tabin / H. Ali.
5. Langgar (yang sekarang Baitul Huda) dengan tokohnya Kyai Abdul Ghofur.
6. Langgar (yang sekarang musola Al Huda) dengan tokohnya Kyai Nur’an dan Kyai Badrun.
7. Langgar (yang sekarang musola Nur Hidayah) dengan tokohnya Kyai Toha.

Selain itu ada dua langgar yang sekarang sudah tidak ada yaitu di daerah tengah sekitar depan rumah Bapak Rahmat  dengan tokohnya Kyai Abdul Salam dan depan Bapak Marto dengan tokohnya Bapak Marto.     

Ky. Abdul Wahid Mempunyai 6 orang anak yaitu:
1.   Ya’kup : Berdomisili dan wafat di Banglarangan.
2.   Dasupi : Berdomisili dan wafat di Banglarangan.
3. Wajem (Wasbah) : Berdomisili dan wafat di Banglarangan.
4. Sarpi (Hj.Khotijah) : Berdomisili dan wafat di Sumur Munding.
5.  Asmawi (H. Hasyim) : Berdomisili dan wafat di Kebumen (Pemalang).
6.   Shomad : Berdomisili dan wafat di Banglarangan.
Ky. Abdul Wahid wafat dan dimakamkan di pemakaman umum desa Banglarangan.

Demikianlah sejarah singkat babat Islam di desa Banglarangan. semoga Allah memberikan kepada beliau tempat yang mulia di sisi-Nya dan kita semua bisa meneladani serta meneruskan perjuangan beliau dalam meyebarkan Islam Ahlussunah wal jama’ah di desa Banglarangan ini Aamiin. Wallahu a’alam.

Sumber : Diceritakan oleh KH. Sobri dari nara sumber Bp. Lurah Kusen, dll.
SHARE

Admin :

Website Resmi Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama yang dikelola oleh Pengurus NU Care - Lazisnu Desa Banglarangan Kecamatan Ampelgading Kabupaten Pemalang. Email : lazisnubanglarangan@gmail.com

1 komentar: