Rabu, 26 Februari 2020

Pemalang Selayang Pandang

SHARE


Pundi no nagari ingkang kauba adi dasa purwa

Eko sawiji, adi linuwih, desa sepuluh, purwa kawitan

Sanajan kathah titahing dewa ingkang kasangga ing pratiwi, kaungkulan ing angkasa, kaapit ing samodra, kathah ing angkasa raras

Mboten kadi nagari Pemalang

Dasar nagara panjang apunjung pasir wukir loh jinawi, gemah ripah karta tur raharja

Panjang pocapane, punjung luhur kawibawane, pasir samodra, wukir gung

Gemah ingkah sami lampah dagang, rinten dalu tan ana pedote, labet dateng ana sang sayanging marga

Pitik iwen, kebo sapi datang cinancangan

Yen rina agelar ing pangonan yen dalu mulih menyang kandange sowang sowang

Raharja nagari kang tebih parang muka, para kawula para tentrem, ayem uripe..................

Dan yang nyandra Pemalang di atas adalah Bupati Pemalang Bpk. Slamet Haryanto, BA Bupati KDH. TK II Pemalang Thn 1981 - 1991. Pemalang memang sering muncul kepermukaan. Bukan hanya karena musibah patahnya jembatan Kali Comal atau banjir bandang, tetapi Kabupaten di pantai utara Jawa Tengah juga sarat prestasi regional maupun nasional. Kabupaten yang berpenduduk sekitar sejuta jiwa lebih ini memiliki luas 101.202,534 ha dan dengan demikian kepadatan penduduknya adalah 1.045 jiwa per km2. Memiliki 4 wilayah pembantu Bupati, 13 Kecamatan dan 216 desa, termasuk 5 Kelurahan. Topografinya juga bervariasi – antara 0-914 m.dpl. ada daerah pantai, dataran rendah, dataran tinggi dan pegunungan. Lengkap !.

Meskipun Pemalang juga tak lepas dari dampak situasi perekonomian dunia yang kurang menguntungkan ditambah dengan bencana alam banjir bandang, tanah longsor yang menelan tak sedikit korban manusia dan harta benda, namun Pelita IV selamat dilalui. Dengan kekompakan dan ke-ikhlas-an, seluruh warga masyarakat dan aparat Pemalang bekerja keras membangun Pemalang dengan segala daya. Hasilnya, selama Pelita IV pertumbuhan ekonomi mencapai 8,01 %. Lebih besar jika dibanding dengan tingkat nasional yang ditargetkan 3,6 % dan Jawa Tengah yang mencapai 7,11 %.

Ini salah satu unsur Pemalang duduk pada urutan 10 besar Dati II se Jawa Tengah yang menerima Parja Adhikarya Nugraha

Patih Sampun
Menurut catatan “Sekilas Sejarah Kab. Dati II Pemalang”, bahwa Daerah Pemalang pada permulaan abad VII besertta Brebes merupakan bagian dari Kab. Tegal. Wilayah ketiga daerah tersebut lebih dikenal dengan nama daerah pesisir kulon serta berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram. Daerah pesisir mempunyai peranan yang penting pada awal pertumbuhannya karena disamping sebagai pusat jalur lalu lintas ekonomi (perdagangan), pemasaran, pendidikan politik dan agama. Kemajuan-kemajuan wilayah ini terlebih lagi ditunjang dengan dibukanya jalan-jalan raya dan jalur kereta api yang dibangun sekitar tahun 1808.


Sehingga dengan demikian kontak kultur makin mendorong mereka untuk meningkatkan hubungan mereka dengan dunia luar. Pada dasarnya masyarakat pesisir adalah masyarakat terbuka. Rasional dan mudah menerima gagasan-gagasan baru. Ada dua elemen kebudayaan yang berpengaruh besar terhadap perikehidupan dan tingkah laku masyarakat pesisir kulon ini yaitu pengaruh kebudayaan Jawa dan pengaruh  Kebudayaan Islam terutama terletak dua pusat kebudayaan Islam yang besar yaitu Demak dan Cirebon.

Awal sejarah Kab. Pemalang dimulai tahun 1750, sebagai akibat hasil perjanjian antara Pakubuwono II dengan VOC di tahun 1743. Dimana pada akhirnya Kab. Tegal yang sangat luas dipecah menjadi 3 kabupaten, yakni disebelah barat Kab. Brebes, Kab. Tegal, dan Kab. Pemalang disebelah timur. Menurut badad Cikal bakal pendiri Kota Pemalang adalah Patih Sampun. Peranan kota Pemalang pada zaman kerajaan Mataram sangat penting sekali. Karena daerah Pemalang ini merupakan gudang beras sumber logistiik dalam strategi Kerajaan Mataram menentang VOC di Batavia.

Akibat pengalaman yang diperoleh dalam perjalanan sejarahnya yang panjang ini, telah terbentuk suatu kepribadian yang penuh kebenaran/keberanian, patriot dan pantang menyerah. Untuk mengenang dan menghormati ke Pahlawanan mereka yang telah gugur dalam perjuangan dalam menegakkan kemerdekaan, dibangun monumen perjuangan di Pusat Kota Pemalang monumen yang terbesar diseluruh wilayah Pemalang. Beberapa orang mengatakan bahwa nama Pemalang itu berasal dari sungai Pemali (sedang Sungai Pemali ada di daerah Brebes). Ada yang mengatakan banyaknya sungai yang malang dari arah barat menuju timur, maka daerah ini disebut “Pemalang”.

Ada pula yang mengatakan bahwa daerah kebupaten Pemalang adalah daerah yang menghalangi-halangi antara daerah Kab. Pekalongan dengan Kab. Tegal sehingga daerah ini di sebut “Pemalang”. Menurut buku “Sejarah Pemalang” yang dibuat oleh salah seorang Mahsiswa IKIP menyatakan, bahwa kata Pemalang berasal dari nama sungai tetapi tidak dijelaskan sungai yang mana. Soegirwo memberi kesimpulan;

Pertama : Tidak bisa menentukan kapan nama Pemalang dicetuskan, siapa pencentusnya dan apa artinya, karena tidak adanya data-data otentik.

Kedua : Dari beberapa orang yang dianggap mengerti, maka kata-kata Pemalang ialah dari kata Kedung Pemali dan Sungai Malang.

Ketiga : Sebelum tahun 1568 nama Pemalang sudah ada.


Sumber : Majalah Krida. Edisi 171
SHARE

Admin :

Website Resmi Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama yang dikelola oleh Pengurus NU Care - Lazisnu Desa Banglarangan Kecamatan Ampelgading Kabupaten Pemalang. Email : lazisnubanglarangan@gmail.com

1 komentar: