Jumat, 04 Agustus 2017

Kebaktian Sang Anak Uwais Al-Qarni

SHARE
Sungguh syaitan apa yang hinggap dibenak seorang anak yang menyianyiakan ibunya, tidak menyantuni dan tak memperhatikan kehidupannya. Bahkan disementara kalangan orang yang mengaku dirinya modern, ketika ibunya sudah mulai renta, diasingkannya ke panti-panti jompo. Mereka dianggap manusuia yang sudah tidak produktif lagi, hidupnya hanya merepotkan saja.


Sungguh kekeliruan yang amat fatal. Jangan sampai terjadi sikap-sikap meremehkan atau merendahkan seorang ibu yang sudah mulai menua. Tidak memperhatikan kehidupannya, berarti kehancuran dan kemelaratan kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Rasulullah pernah bersabda : “Karena pengabdiannya yang begitu tulus kepada ibunya, maka Uwaid al-Qarni diangkat menjadi penghuni langit. Jangan lalai.

Baca Juga : Mengajari Anak Untuk Bersyukur

Kalau kalian berjumpa dengan dia, mintalah doa dan istigfar kepadanya. Sebab ia bukan penduduk bumi. Ia salah seorang penghuni langit”, demikian wasiat Rasulullah SAW yang bagi Khalifaf Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khathab menimbulkan teka-teki rasa ingin tahu. Mengapa sekeras itu Rasulullah SAW berpesan? Kemuliaan apa yang dimiliki Uwais al-Qarni?

Kejadiannya bermula ketika Rasulullah baru pulang dari medan perang bersama sahabatnya. Begitu tiba di rumah, Rasulullah SAW menanyakan kepada isterinya, Aisyah. “Apakah ada seorang dari Yaman mencariku? “Betul”, jawab Aisyah.” “Ia berangkat dari Yaman sengaja ingin menemuimu. Karena Rasulullah tidak ada dan ia telah berjanji untuk tidak meninggalkan ibunya terlalu lama, maka ia buru-buru pulang ke Yaman walau sudah saya katakan sebentar lagi Rasulullah akan tiba.”

Jarak Yaman ke Madinah terbentang lebih dari 400 km. Ia telah menempuhnya dengan susah payah melintasi padang pasir di bawah terik matahari yang menyengat. Namun demi menunaikan janji kepada ibunya untuk tidak terlalu lama meninggalkan, ia lebih suka tidak bertemu Nabi daripada membuat hati ibunya cemas menunggu. Masya Allah, alangkah agungnya hati Uwais al-Qarni akan kebaktian kepada ibunya. Karena kebaktian ibunya Rasulullah menamainya dengan “Penghuni Langit” kepada Uwais al-Qarni.

Pesan dan wasiat Rasul itu membuat Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab, senantiasa gelisah. Kegelisahan itu bertambah, karena Rasulullah mengatakannya bahwa di telapak tangan Uwais al-Qarni terdapat tanda putih. Sebelum kesampaian hasrat hati ini bertemu Uwais al-Qarni, bagi Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab hidup ini rasanya masih tertunggak hutang. Tahun demi tahun berlalu, hingga Rasulullah SAW wafat. Kedua sahabat Nabi itu belum juga ketemu dengan Uwais al-Qarni. Dilaluinya khalifah pertama Abu Bakar Asshiddiq, hingga iapun wafat, belum juga dijumpainya Uwais al-Qarni.

Setiap kali ada kafilah datang dari Yaman, mereka selalu menanyakan apakah beserta rombongan terdapat Uwais al-Qarni? Begitu setiap kali ada berlalu lalang kafilah antara Yaman dan Hizaz, sampai seorang kafilah dari Yaman keheranan. Uwais al-Qarni hanyalah seorang fakir penggembala ternak, yang tidak mempunyai keistimewaan apapun. Tetapi mengapa khalifah selalu menanyakan tentang dia?

Karena tekadnya yang keras untuk senantiasa menanyakan kedatangan para kafilah, akhirnya kedua khalifah Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab mendapat kabar bahwa diantara rombongan kafilah dari Yaman yang singgah di Madinah dalam perjalanan menuju Syam terdapat Uwais al-Qarni. Kabar gembira yang sangat dinantikan sejak dulu semasa Nabi masih hidup hinggal khalifah pertama Abu Bakar Asshiddiq pun meninggal belum juga dapat ditemui. Kepada pimpinan rombongan Umar bertanya, “Adakah diantara anak buah saudara terdapat seorang bernama Uwais al-Qarni yang bijak itu?”. Orang itu menjawab, “Memang nama itu ada, tetapi ia bukan orang bijak. Ia hanya pelayan paling bawah yang bertugas menjada unta-unta kami,” tegasnya.

Tanpa memperpanjang pertanyaan, Umar bin Khattab menuju ketempat yang ditunjukan oleh pimpinan rombongan. Tiba di kemah orang yang dicarinya, khalifah Umar mengucapkan salam. Tidak ada jawaban dari dalam karena Uwais al-Qarni sedang mengerjakan shalat sunnah. Sesudah selesai barulah Uwais keluar dan mengulurkan tangan menjabat tamunya itu. Dengan serta merta tangan Uwais al-Qarni dibalikkan untuk dapat melihat telapak tangannya. 

Ternyata yang diceritakan Rasulullah SAW itu tidak keliru. Ditelapak tangan Uwais al-Qarni terdapat tanda putih dengan begitu nyata, dan mendadak wajah Uwais bersinar gemerlapan. Umar pun bertanya untuk mempertegaskan rasa ingin tahunya, “Siapakah saudara sebenarnya”? “Saya? Ah, saya ini Abdullah,” jawab Uwais. Umar dan Ali tersenyum, “Kami pun juga Abdullah, hamba Allah. Maksud kami siapakah nama saudara?”

“Nama saya Uwais al-Qarni.” Sesudah jelas betul, kemudian Umar dan Ali bin Thalib memohon kepada Uwais agar mendoakannya untuk keberkahan dan mendapat ampunan dari Allah SWT. Uwais bersedia mengabulkan permintaanya, asalkan sejak hari itu Umar dan Ali tidak memberitakan kepada siapapun tentang dirinya. Umar dan Ali mengangguk dan hati kedua khalifah itu terharu setelah mendengar kebaktiannya yang tulus kepada Ibunya, Uwais mendapat derajat mulia disisi Allah, sesudah meninggal dunia. Itulah sebabnya kini Uwais al-Qarni bekerja pada rombongan kafilah.

Sebelum itu ia tidak pernah keluar dari rumahnya karena menjaga ibunya yang sudah renta, kecuali untuk menggembala ternak sekedar mendapat upah menyambung hidupnya. Sebegitu jauh tak seorang pun mengetahui kemuliaan Uwais al-Qarni. Penduduk Yaman sendiri hanya mengenal dia sebagai seorang penggembala ternak biasa. Namun masyarakat Yaman dibuatnya heran, begitu Uwais meninggal dunia, begitu jenazahnya akan dimandikan sudah banyak orang tak dikenal berebut melakukannya. Demikian juga ketika para tetangga hendak menggali kubur, sebuah makam yan indah sudah dikerjakan sejumlah orang yang tidak mereka kenal.

Dan begitu juga ketika keranda usungan jenazahnya hendak diberangkatkan ke makam, orang yang tak dikenal berebut mengusungnya. Itulah yang disabdakan Rasulullah SAW, bahwa Uwais al-Qarni adalah seorang hamba Allah yang termasyur di langit, namun di bumi tidak dikenal sama sekali. Kecuali dia hanya seseorang fakir penggembala ternak dan penjaga unta-unta pada kafilah. Ketulusan  kebaktiannya yang menonjol kepada ibunya, itulah yang antara lain menjadikan dirinya mendapat gelar “Penghuni Langit”. 

Ajaran Islam sangat menekankan terhadap kebaktian kepada orang tua. Sehingga dalam bagian lain hadist Nabi menyebutkan : Keridha’an Allah itu terletak pada keridha’an kedua orang tua.” Sehingga tidak ada dalam konsep Islam orang yang sudah tua harus diasingkan karena dianggap menyusahkan, tidak produktif dan sebagainya.


Sumber : Majalah Krida. (A. Syahri Thalib) Edisi 156. Hal 60
SHARE

Admin :

Website Resmi Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama yang dikelola oleh Pengurus NU Care - Lazisnu Banglarangan Kecamatan Ampelgading Kabupaten Pemalang. Email : lazisnubanglarangan@gmail.com

0 Comments: