09 Januari 2026

Gus Dur Titisan Kiai Besar dan Penguasa Jawa

SHARE

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Adalah titisan kiai besar tanah Jawa. Ayahnya, KH. A Wahid Hasyim, Adalah putra KH M Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Ibunya, Ny Solichah, Adalah putri KH Bisri Syansuri, seorang pendiri NU Bersama KH. Hasyim Asy’ari.

Garis keturunan kakek dan nenek Gus Dur, KH Hasyim Asy’ari dan istrinya Ny Nafiqah bertemu pada Lembu Peteng (Brawijaya VI), yaitu dari pihak ayah melalui Joko Tingkir (Sultan Pajang, 1569-1587), dan dari pihak ibu melalui Ki Ageng Tarub I. demikian ditulis dalam Ensiklopedi Islam yang diterbitkan PT Ichtiar Baru Van Hoeve (1993).

BACA JUGA : RINDU GUS DUR..

Dalam buku Sejarah Hidup KH A Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar karya H Aboebakar (1957), disebutkan Lembu Peteng (Brwaijaya VI) mempunyai putra Bernama Joko Tingkir atau Karebet. Joko Tingkir mempunyai anak Bernama Pengeran Benawa. Kemudian Pangeran Benawa mempunyai anak beranama Pangeran Samba. Anak Pangeran Samba Bernama Ahmad. Anak Ahmad Bernama Abdul Djabbar. Kiai Abdul Djabar ini mempunyai anak Bernama Sichah. Dari sini keturunan menyimpang, yang satu kepada Kiai Hasyim melalui Layyinah, dan yang lain kepada KH A Wahab melalui Fatimah dan H Hasbullah.

Ki Ageng Tarub 1 mempunyai anak Bernama Ki Ageng Tarub II, anaknya Bernama Kiai Ageng Ketis, Anaknya Bernama Kiai Ageng Sila, anaknya Bernama Kiai Ageng Saba, anaknya Bernama Kiai Ageng Ngalawihan Solo, anaknya Bernama Kiai Ageng Pemanahan, anaknya Bernama Panembahan Senopati, anaknya Bernama Pangeran Kadjuruan, anaknya Bernama Arya Peringgaliya, anaknya Bernama Raden Paduraksa, anakanya Bernama Raden Panji Darna Santana, anaknya Bernama Kiai Ngabdul Ngalim, anaknya Bernama Kiai Basyariyah, nenek ke-7 dari KH A Wahid Hasyim melalui ibunya.

Kakek Gus Dur, KH Hasyim Asy’ari – seperti disebutkan Zamakhsyari  Dhofier dalam bukunya Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai (1982) – seorang kiai besar dan satu-satunya kiai Jawa yang dijuluki Hadratus Syaikh. Kiai Hasyim memusatkan perhatiannya pada usaha mendidik sejumlah kecil santrinya yang terpilih sampai sempurna betul, sehingga setelah keluar dari  pesantren bisa mendirikan pesantren sendiri.

BACA JUGA : Riwayat Hidup K.H. Hasyim Asy’ari

Kiai Hasyim menjadi besar dan berpengaruh terutama karena murid-muridnya Angkatan pertama berhasil mendirikkan pesantren besar dan banyak santri Tebuireng yang menjadi tokoh nasional. Beberapa kiai yang pernah belajar kepada Kiai Hasyim di Pesantren Tebuireng kemudian menjadi kiai-kiai berpengaruh dan pemimpin pesantren besar, di antaranya Kiai Manaf Abdul Karim pendiri Pesantren Lirboyo, Kiai Djazuli pendiri Pesantren Ploso Kediri, KH Abdulwahab Chasbullah pemimpin Pesantren Tambak Beras Jombang dan Rais ‘Aam NU yang menggantikan Kiai Hasyim. KH Machrus Ali, KH Masykur dan KH Mahfoedz Siddiq, Kiai Chalil Bangkalan, guru Kiai Hasyim, kemudian juga belajar kepada muridnya itu.

Kebesaran Kiai Hasyim juga ditunjukkan oleh para santri atau keluarganya yang menjadi tokoh nasional. Menurut catatan Greg Fealy (Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952-1967,2003, hlm.55-56), 15 menteri dari NU di era kepresidenan Sukarno mempunyai hubungan keluarga dengan Kiai Hasyim. KH A Wahid Hasyim yang menjadi Menteri agama pertama setelah pengakuan kedaulatan adalah anak Kiai Hasyim. Muhammad Ilyas dan KH Masykur, keduanya pernah menjadi Menteri agama, masing-masing Adalah kemenakan dan cucu ipar Kiai Hasyim. KH Saifuddin Zuhri yang prenah menjadi Menteri agama juga cucu ipar Kiai Hasyim. Sementara itu, sekurang-kurangnya dua belas dari empat puluh lima anggota parlemen NU tahun 1955 dan 1959 adalah alumni Tebuireng.

Selain mereka ada Mochammad Dahlan (Ketua Umum PBNU 1953-1956), KH Achmad Siddiq (Rais ‘Aam PBNU 1984-1991), Munir Abisujak, Abdullah Ubaid, KH Moenasir (tokoh Pertanu dan Sekjen PBNU 1971-1979), KH As’ad Syamsul Arifin (Pesantren 1971-1979), KH As’ad Syamsul Arifin (Pesantren Asembagus Situbondo), mereka semua juga pernah menjadi santri Kiai Hasyim.

Gus Dur, dengan demikian, Adalah titisan kiai besar dan penguasa Jawa. Darah Kiai dan penguasa besar mengalir dalam dirinya.


Sumber : 41 Warisan Kebesaran Gus Dur (MHD)

SHARE

Admin :

Website Resmi Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama yang dikelola oleh Pengurus NU Care - Lazisnu Desa Banglarangan Kecamatan Ampelgading Kabupaten Pemalang. Email : lazisnubanglarangan@gmail.com

0 Comments: